Sepeninggalmu

Hai, apa kabar?

Aku harap kamu membaca tulisan ini. Kamu yang Aku kira dulu adalah sebuah labuhan. Kamu yang Aku kira dulu adalah sebuah jawaban dari pertanyaan. Kamu yang Aku kira dulu adalah sebuah akhir dari perjalanan.

Tapi ternyata, sepeninggal mu. Kemudian hari Aku sadar. Bahwa belum ada labuhan yang pantas untuk sebuah perahu reok. Samudra mu terlalu luas menuju labuhan. Perahu reok ini harus berproses dulu menjadi sebuah kapal yang gagah. Sebuah kapal penakluk gelombang di samudera luas mu.
Dan juga, tanya ku yang belum menemui jawaban. Harus membaca lebih banyak bintang lagi, harus bertanya kepada setiap rembulan lagi, harus memahami makna dari ribuan malam lagi. Tanya ku yang belum kunjung terjawab.

Ternyata juga, jalan ku masih sangat panjang. Aku harus menghela lebih banyak nafas lagi untuk ribuan mil perjalanan. Untuk melangkah dari hati ke hati. Untuk belajar melepaskan.

Sepeninggal mu, aku sadar. Bahwa tak ada jarak yang tak kurang ajar. Jarak yang aku kira dulu hanya sebuah angka, ternyata menjelma menjadi sebuah tembok, lalu menjadi rintangan, setelah itu menjadi halangan, dan kemudian menjadi terlupakan.

Aku tidak benci jarak, awalnya. Karna jarak aku merasakan rindu yang tak dapat di hitung. Karena jarak aku merasakan arti dari pertemuan singkat.
Tapi Akhirnya, jarak juga yang menghitung waktu sepeninggal mu. #tulisanbaratdaya
#sajakbaratdaya

About The Author

Reply

Leave a Reply