PEKALONGAN – SEMARANG DALAM CERITA DI JALUR PANTURA

Perjalanan di Jalur Pantura membawa kami melewati jarak sekitar 101 km dari Pekalongan menuju Semarang. Hari yang cerah dan suguhan pemandangan alam serta perumahan warga disepanjang perjalanan membuat perjalanan serasa lebih nikmati dari biasanya. Tak salah rasanya kami memilih Jalur Pantura sebagai sarana untuk mencari makna.

Peremajaan jalur panturan sudah terlihat dimana-mana. Wajah baru menyambut kami untuk sekedar menikmati hari ditemani mentari. Jalur Lintas Utara Jawa (PANTURA) sepanjang 1.341 km yang meliputi Serang – DKI Jakarta – Palimanan – Brebes – Pemalang – Batang – Semarang – Demak – Tuban – Surabaya – Probolinggo – Situbondo ini memiliki banyak tempat kuliner dan spot-spot menarik sepanjang perjalanan. Berbagai wisata kuliner berjejer sepanjang jalan, namun sayangnya kami tak bisa berhenti karena lagi puasa, takut nanti khilaf dan malah jadi berabe urusannya.

Pemberhentian pertama kami dari #TIMPANTURA adalah Kendal yang berjarak 72 km dari Pekalongan. Perjalanan selama 1,5 jam tak begitu terasa karena kami terpesona menikmati suasana disepanjang perjalanan. Memang benar kata salah satu quotes yang pernah saya baca ketika berselancar di layar kaca.

“Bukan tujuan yang terpenting dari sebuah perjalanan, tapi pengalaman ketika mencapai tujuan” 

-anynomous.

Rowo Bladon – Kendal, tempat kece yang gak boleh dilewatkan untuk bersantai ketika lelah berkendara.

Kendal menyapa, artinya perjalanan hampir mencapai Semarang. Kami berhenti sejenak menikmati indahnya perjalanan di salah satu tempat yang lagi ngehits di kalangan anak muda Kendal, Rowo Bladon. Wisata instagramable ini gak boleh banget dilewatkan bagi yang mudik lewat Kendal menuju Jawa Tengah. Rowo Bladon berlokasi di Jalan Kyai Mukhibin, Desa Purwokerto, Kecamatan Brangsong, Kendal.

Rowo Bladon berlokasi di tempat yang sangat asri. Di kiri-kanan kita bakalan melihat pesawahan luas yang terbentang. Sangat cocok banget buat bersantai sejenak menikmati hari sambil menghilangkan penat dari lelahnya berkendara. Oh iya, disini kita juga bisa bermain rakit dan tiduran di atas air pakai laybag.

Suasana yang sejuk di Rowo Bladon.

Hari sudah mulai petang dan kami mesti melanjutkan perjalanan menuju Semarang yang berjarak sekitar 33 km. Jalur Pantura kembali menyapa kami dengan wajah ceria. Bersantai sejenak di Rowo Bladon telah mampu menanggalkan semua keletihan kami selama berkendara di Jalur Pantura.

Mentari telah pergi ketika kami sampai di Semarang. Kewajiban sebagai seorang muslimpun kami tuntaskan di Masjid Agung Jawa Tengah yang tampak megah. Masjid megah ini berada di Jalan Gajah Raya, Gayamsari, tak jauh dari kawasan Jalur Pantura menuju Demak. Berhenti sejenak dan bersujud menghadap Tuhan untuk keberkatan perjalanan mesti harus dilakukan.

Masjid megah ini merupakan perpaduan dari berbagai gaya arsitektur bangunan jawa, roma dan arab. Gerbang koloseum bergaya khas Eropa yang dibaluti surat Al-Mukmin ayat 1-5 menyambut kami ketika memasuki pelataran masjid. Masuk ke pelantaran, kami serasa di bawa terbang ke suasana Masjid Nabawi, 6 buah payung raksasa yang berdiri kokoh seakan menampakkan kemegahannya. Melewati payung raksasa, kami kembali memasuki nuansa arsitektur Jawa nan kental, berbagai ukiran khas tradisional membaluti sekujur masjid. Sungguh sebuah perpaduan yang unik.

Gerbang koloseum megah bergaya khas Eropa menyambut kami.

Masjid yang dibangun pada tahun 2001 dan diresmikan oleh Presiden RI pada tahun 2006 ini menjadi sebuah simbol religi bagi masyarakat Semarang dan Jawa Tengah. Masjid ini mampu menampung sekitar 15.000 jemaah, belum termasuk halaman utama masjid yang mampu menampung sekitar 10.000 jemaah. Tak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan, pusat syiar Islam, dan wisata religi untuk para pelancong yang ingin mengagumi kemegahan arsitektur masjid.

Arsitektur megah Masjid Agung Jawa Tengah.

Selain terpesona dengan desain arsitektur dan kenyamanan beribadah, kami juga terkagum dengan sebuah Al-Quran raksasa karya tangan seorang pria yang bernama H. Hayatuddin, yang merupakan penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-Quran dari Wonosobo, Jawa Tengah.

Lepas menjalankah ibadah dan berkeliling masjid nan megah ini, kamipun melanjutkan perjalanan mencari sesuap kebutuhan perut yang udah mulai keroncongan sambil mengekplorasi Semarang di malam yang penuh berkah ini. Ternyata Semarang memiliki banyak wisata malam yang sangat spektakular dan pastinya bakalan cocok banget buat berhenti sejenak dari perjalanan panjang mudik menuju kampung halaman.

Kami terhenti ketika melihat kereta berwarna yang berjejer di sepanjang trotoar jalanan. Rasanya masa kecil menyapa kami kembali dan tanpa pikir panjang, kami udah duduk aja di dalam kereta yang berwarna-warni dan menggemaskan itu. Ulala~

Bersepeda keliling kota sambil menikmati suasana malam setelah makan bersama sungguh enak banget cuy! 

Sepeda dengan lampu berkerlap-kerlip berjejer rapi di troroar jalan.

Perjalanan dari Pekalongan menuju Semarang lewat Jalur Pantura tak begitu terasa berat karena suguhan pemandangan indah yang menemani kami sepanjang perjalanan. Rasanya perjalanan begitu nikmat ketika kita berhenti sejenak dan menikmati hari di tempat-tempat unik sepanjang perjalanan.

Ada banyak cerita yang bisa kamu temui sepanjang Jalur Pantura dan yang pastinya bakalan syarat akan makna. Bagi kamu para pemudik, sudah menentukan akan mudik lewat jalur mana?

Mari bagikan momen mudikmu menjadi #TimPantura di kolom komentar ya.

Stay safe, happy travel and leave no trash.

Selamat berkelana!

About The Author

No Responses

Reply

Leave a Reply