Enam tahun sudah saya meninggalkan kampung halaman, sebuah desa indah di kaki Gunung Sago. Kampung damai yang disekelilingnya masih hijau akan hutan dan sawah, juga ada sebuah sungai kecil dari beberapa sarasah kaki Gunung Sago, udara yang segar dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Barangkali itulah tempat yang diidam-idamkan oleh para bule kaya di luar sana, atau orang-orang yang sudah kenyang akan segala materi dan hidup suntuk di kota besar.

Proses merantau sejatinya bagi lelaki minang adalah bagian dari tradisi yang pantang untuk tidak ditunaikan. Berkaca dari sejarah turun temurun, para lelaki Minang memang sudah sejak dahulu dianjurkan untuk merantau jauh dari kampung halaman, seakan disuruh untuk belajar lebih jauh tentang kehidupan, menuntut ilmu lebih jauh kepada guru diseberang pulau, atau sekedar mencari rezeki di tanah rantau yang katanya menghadirkan peluang jauh lebih besar.

Meninggalkan orang tua, kawan-kawan kecil, rumah tempat bertumbuh, juga lingkungan yang sangat nyaman dengan segala kecukupan, lalu pergi ke negeri orang. Sebuah negeri asing yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Untuk saya pribadi, pergi merantau adalah untuk melanjutkan pendidikan. Sebuah kesempatan hebat bagi saya bisa berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta terbaik, dan bahkan tanpa biaya sama sekali. Pihak kampus menghadiahi beasiswa penuh sampai menyelesaikan pendidikan Master (S2). Alangkah bodohnya saya jika saat itu tidak mengambil kesempatan itu.

Aliih-alih melanjutkan pendidikan di negeri orang, ternyata proses membawa saya lebih jauh lagi. Merantau memang lebih membuka banyak pintu lain di kehidupan saya. Bagaimana sebuah lingkungan baru mmaksa saya untuk beradaptasi. Dari udara yang dulunya saya hirup saja contohnya, dulu udara sejuk dan angin sepoy-sepoy khas pegunungan menjadi hal yang biasa saya nikmati setiap hari. Sekarang, udara panas dan polusi yang kadang membuat sesak di setiap sudut kota menjadi satu hal pahit pertama yang harus saya hadapi. Seiring berjalannya waktu, tubuh saya mulai beradaptasi dengan keadaan. Udara segar menjadi hal yang mahal di kota metropolutan ini.

Bertahun-tahun berlalu dan proses perantauan saya juga membentuk pribadi saya menjadi lebih baik lagi. Proses merantau juga turut andil dalam memperluas relasi dan pertemanan. Tidak hanya di lingkungan sosial, relasi juga punya andil besar dalam dunia pekerjaan. Orang-orang yang punya relasi luas cenderung mudah mendapatkan pekerjaan ataupun dalam menjalankan dunia usaha. Bisa dibayangkan betapa mudahnya menjual produk ketika kita punya kenalan lebih dari seribu orang ketimbang hanya mempunyai sepuluh atau dua puluh orang kenalan. Relasi adalah satu hal penting yang harus kita bangun, dengan siapapun, dengan kalngan manapun. Karena kita tidak pernah tahu pasti dengan siapa kita akan bekerjasama kelak, atau kita juga tidak akan pernah bisa memprediksi siapa partner bisnis kita di masa depan, bisa saja orang yang baru kita kenal di perguruan tinggi, atau bisa saja orang yang kita kenal di perjalanan. Hidup memang tidak bisa ditebak, tapi kita bisa mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik.

Untuk saya yang sudah cukup lama hidup di kota besar, menemukan tempat sunyi dan sejuk menjadi sebuah kesenangan, jadilah saya sesekali pergi melancong atau sekedar berlibur ke desa-desa di kota terdekat. Satu saat saya pernah merenung di pinggir Situ Cileunca, tentang kampung halaman. Sebuah pertanyaan klasik kemudian muncul, untuk apa sebenarnya meninggalkan semua kenyamanan di kampung halaman, lalu pergi mengadu nasib ke kota besar, seperti yang saya lakukan beberapa tahun silam sampai saat ini. Berharap kehidupan yang lebih layak, meski sejatinya kampung halaman adalah tempat paling layak dan nyaman, hal yang kemudian saya sadari setelah meninggalkan itu semua untuk sementara. J

Saya memperoleh jawaban sementara dari hasil renungan di pinggir danau buatan itu, untuk sejenak keluar dari zona nyaman itu sendiri, lalu berproses menjadi jauh lebih baik untuk kelak kembali lagi ke tempat dimana saya berasal, kampung halaman.